• Halaman

  • Arsip

  • KATEGORI

  • Komentar Terakhir

    Mr WordPress on Hello world!
  • Klik tertinggi

    • Tidak ada
  • Tulisan Teratas

    • Tidak ada

UNTUK DIA DI SURGA


Oleh : Devi Indriyani (2006)

Sekarang aku berdiri tepat di bawah langit biru yang sama seperti beberapa bulan lalu. Masih tetap indah, tetap cerah, dan masih saja membawakan suasana nyaman di sini. Dan entah apa yang ingin ku lakukan saat ini, bersandar di bawah naungan pohon yang sejuk, membuatku hanyut dalam kenanganku dengan tak ada satu katapun terlontar dari mulutku. Mungkin benar apa yang dikatakan orang padaku, aku masih tak rela melepaskan sosok itu dari hidupku. Sosok nan familier itu, kakakku tersayang.

Biarpun aku berharap dia pergi ke tempat yang amat jauh dengan cara yang amat mengerikan. Dia memang keras, setiap bicarapun dia selalu meninggikan nada bicaranya, tapi aku tahu dia tak segalak itu, di dalam dirinya terdapat kehangatan yang luar biasa, hatinya lembut bagaikan salju, meskipun samua memang jarang tersentuh. Entahlah harus bagaimana aku menggambar-kan sosok Kak Arifku itu. Kak Arif yang selalu memetik gitar di tempat ini, dan Kak Arif yang tak bosan-bosannya memarahiku.

Masih tertata rapi, semua kenangan-kenangan bersamanya. Aku ingin teriak, menangis meraung-raung, aku ingin dia kembali, kembali di sisiku. Di sini, di bawah pohon kami ini, semua kata-kata yang pernah terlempar dari mulutnya seperti menggema-gema, di telingaku, rasa rindu yang teramat dalam seperti bergumul di dadaku, memenuhi setiap sudut di dalamnya, bahkan seperti menjagal leherku, hingga aku tak dapat bernafas, sesak sekali rasanya.

Tuhan… andaikan saja saat itu aku tak mengajaknya pulang ke Jakarta, mungkin tak akan terjadi peristiwa naas itu. Dan andaikan saja aku menuruti perkataannya untuk menunda keberangkatan kami, atau setidak-nya mengikuti kemauannya untuk naik bus saja, tapi kenapa aku terlalu egois Tuhan, hingga kecelakaan itu harus merenggut nyawanya. Aku rindu sekali dengan Kak Arif, aku tak mau berpisah dengannya, aku tak akan lagi mengadu pada ayah dan ibu jika Kak Arif memarahiku, toh itu semua juga demi kabaikanku. Aku akan selalu sabar, dan menjadi gadis manis penurut, seperti yang selalu di inginkannya. Tapi aku sadar dia takkan pernah bisa kembali, walaupun sampai seribu tahun aku setia menunggu di bawah  pohon ini, aku yakin dia tak kan pernah kembali.

Tuhan…jika kau mendengarkan aku saat ini, aku mohon sampaikanlah pada kakakku yang keras kepala itu, bahwa aku teramat sangat menyayanginya, tak akan surut meski telah bertahun-tahun, bahkan berabad-abad berlalu.

Dan angin berhembus kencang menerpa wajahku, terasa begitu sejuk, walau sebenarnya menyakitkan, menyakit-kan karna hanya ada aku di bawah pohon ini. Bersandar sendiri sambil menikmati suasana pagi yang tak pernah berubah persis seperti beberapa bulan lalu, katika manusia angkuh itu masih dapat ku peluk erat-erat. Kak Arif angkuh yang ku sayang.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.