Oleh: Ribertus Tito VIII A (2007)
Hari ini langit bersinar begitu cerah, terlihat sang surya menyisip di awan putih menyinari pagi. Di SMP Sang Surya, terdapatlah seorang siswa perempuan yang selalu ceria. Adin nama siswa perempuan yang terkesan paling cantik dan pintar itu. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya dan seorang adik yang masih berusia 9 tahun, Rini namanya.
Sisi utara langit terlihat awan hitam menggumpal, dipandang awan itu oleh seorang siswa laki-laki yang menjadi musuh Adin. Harinya dilalui penuh dengan masalah-masalah yang dibuatnya. Roy, begitu teman-temannya memanggil cowok yang dikenal sebagai ketua genx paling ditakuti warga SMP Sang Surya. Hari itu tergeraklah hatinya untuk membuat masalah baru.
“Hai cantik!”kata Roy sambil memegang kepala Adin…..
“Apaan sih! Lancang banget sih loe!”kata Adin kesal.
“What? Hati-hati kalo bicara.”sahut Roy.
“Mang kenapa? Loe mau apa?”bentak Adin.
“Tunggu pembalasanku.”kata Roy bergegas pergi.
Dari saat itu Roy mulai merencanakan suatu kenakalan yang ditujukan kepada Adin. Roy dan ketiga teman se-genxnya, yaitu John, Son, beserta Erick segera melakukan persiapan dengan matang demi suksesnya rencana mereka yang sangat bahaya.
Tanpa ada kesulitan sedikit pun Roy dan temannya menyelesaikan rencana pembalasan atas perlakuan Adin kepadanya beberapa waktu lalu.
Pagi yang ditunggu Roy tiba. Hari itu Roy dan temannya, sudah yakin akan kesuksesan rencana mereka.
Seperti hari-hari biasa, Adin pergi sekolah bersama teman akrabnya, Dhia. Dari rumah, Dhia merasa ada yang aneh, dia merasa Adin begitu pucat, tetapi ketika ditanya, Adin hanya menjawab baik-baik saja.
“Sampai nanti. Hati-hati dengan Roy,”kata Adin sambil berjalan menuju ruang kelasnya yang ada di seberang kelas Dhia.
Adin berjalan dengan wajah sedikit pucat menuju ruang kelas. Hari itu dia merasa ada yang aneh dengan kesehatannya, tiba-tiba ketika salah satu kakinya hendak melangkah ke dalam ruang kelas, kakinya terjerat seutas tali yang tersambung dengan pintu kelasnya.
“Aduh…,”teriak Adin kesakitan.
Bersamaan dengan jatuhnya Adin, pintu kelas menghampiri wajahnya dan dia pingsan. Teman-temannya termasuk Roy yang seolah-olah tidak tahu kejadia itu segera menolong. Seorang guru yang kebetulan sudah datang memeriksa Adin di UKS. Adin segera sadar tanpa ada suatu hal pun dilakukan. Karena wajah Adin yang pucat tidak seperti biasanya, Bu Yeni segera memeriksa Adin.
“Wah, suhu badanmu tinggi, kamu pasti sakit. Roy tolong ambilkan minyak angin di meja Pak Surya.”kata Bu Yeni kepada Roy.
“Baik, Bu. Dengan senang hati,”kata Roy sambil tersenyum dan sesekali tertawa.
Roy mulai berjalan hendak mengambil minyak angin dan dia mulai berpikiran untuk membalas dendamnya kepada Adin.
Botol minyak angin kini sudah ada di tangan Roy dan isinya segera dibuang. Roy mengganti isi botol itu dengan lem kertas yang ada di tasnya. Botol lem yang telah kosong dibuang di tempat sampah. Otak Roy mulai bekerja lagi, ia tahu kalau Adin nanti setelah diolesi lem di botol minyak angin pasti ke kamar kecil untuk membersihkan dirinya. Roy segera menyuruh anak buahnya untuk membuang air yang ada pada bak air di seluruh kamar kecil SMP Sang Surya.
“Ini, Bu minyak anginnya. Saya mohon diri dulu karena pelajaran sudah dimulai.”kata Roy kepada Ibu Yeni.
Ibu Yeni menyuruh Adin mengusapkan minyak angin itu ke tubuhnya. Adin merasa ada yang aneh dengan minyak angin itu, tetapi dia tetap mengusapkannya pada tubuhnya karena ia berpikir kalau bau minyak angin memang seperti itu.
Tiba-tiba tubuh Adin kaku dan minyak angin yang masih basah terasa lengket. Ia menyadari kalau ada yang tidak beres dengan minyak angin itu. Dugaannya benar dan Bu Yeni menyarankan agar Adin membersihkan tubuhnya di kamar kecil. Dalam perjalanan ke kamar kecil, masalah muncul lagi, Adin merasa sakit perut. Dia terlebih dahulu buang air besar. Hari ini mungkin dewi keberuntungan belum berpihak padanya, saat hendah mengambil air bak air yang tepat berada di sampingnya. Adin kaget karena tak ada air sedikit pun.
“Tolong….tolong….!”teriak Adin sambil meneteskan air mata.
Lima belas menit kemudian, seorang laki-laki yang mendengar teriakan Adin segera menanyainya dan tanpa pikir panjang, segera membantu. Laki-laki yang berprofesi sebagai tukang kebun itu kaget saat melihat Adin keluar dari kamar kecil tubuhnya merebah tidak sadarkan diri. Seorang guru mengantar Adin ke rumah sakit terdekat.
Siang itu teman-teman Adin termasuk Roy menjenguk Adin di rumah sakit. Mereka sangat prihatin akan keadaan teman termanis mereka kecuali Roy.
Hari itu Roy merasa senang dan puas atas segala perbuatannya terhadap Adin. Malam harinya Roy bersama teman se-genxnya merayakan kesuksesan mereka. John teman akrab Roy tidak ikut karena dia merasa sangat bersalah karena telah membuat Adin sakit.
Sudah sembilan hari Adin terbaring di rumah sakit, namun belum kunjung sembuh. Dalam keadaan seperti itu hari-hari dilalui John dengan tekanan yang begitu berat. John mulai berhalusinasi tentang hal-hal buruk yang bisa terjadi pada Adin. Berkali-kali John membujuk temannya se-genx agar mau meminta maaf kepada Adin yang belum juga sembuh, namun semua itu sia-sia.
Hari berikutnya Roy dan beberapa temannya mengikuti kegiatan penyuluhan tentang pentingnya cinta kasih di sekolah. Ketika seorang siswa diberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman pahit yang pernah ia jalani, Roy merasa sangat tertekan, karena siswa yang bercerita itu mengulas tentang Adin yang masih opname di rumah sakit. Akhir kegiatan itu Ro menyadari kesalahan yang telah ia lakukan kepada Adin.
Malam yang dingin tiba, Roy bergegas untuk menjenguk Adin di rumah sakit. Sama seperti kemarin, keadaan Adin masih memprihatinkan. Secara terus-menerus setiap malam Roy mengunjungi Adin tanpa sepengetahuan siapapun.
Pada malam keenam, Roy juga menjenguk Adin, kemudian duduk di samping tempat Adin tidur dan secara tidak disengaja tertidur. Beberapa waktu kemudian Adin siuman dan melihat Roy yang tertidur di kursi dekat tempat ia tidur. Adin menyadari kalau Roy tidak sejahat yang ia kira.
Karena Adin bergerak-gerak, Roy pun terbangun dan memegang tangan kanan Adin serta meminta maaf atas semua kesalahan yang ia lakukan selama ini. Malam itu Roy merasa puas dan ia merasa sayang kepada Adin.
Pagi harinya Adin diajak Roy berjalan-jalan di sekitar taman di rumah sakit tempat Adin dirawat. Roy sengaja tidak berangkat sekolah karena dia ingin menemani Adin. Siang harinya teman-teman Adin menjenguk lagi dan melihat Roy bersama Adin. Kini Roy dan Adin saling menyayangi. Akhirnya mereka……..
Filed under: Tak terkategori