Oleh: Desinta Windiarti VII A
Di suatu ketika Pink, seorang pelajar SMP yang cantik, imut dan baik hati sedang menangis tanpa sebab. Blue kakak dari gadis kecil ini menghampirinya,””Adikku sayang, mengapa kamu menangis?”tanya sang kakak. “Ah, nggak, nggak, siapa bilang aku nangis! Aku tadi abis motong bawang merah, jadinya mataku sakit.”jawab Pink meyakinkan kakaknya. “Oh..gitu ya!”sahut kakaknya dengan nada tidak percaya. Blue pun meninggalkan adiknya itu.
Pada pagi harinya, yaitu hari Rabu, Pink berangkat sekolah. Ia bersekolah di SMP IMPIAN 23. Seperti biasa, Jingga, Yellow, dan Warna (ketiga teman Pink) menyapa Pink,”Hai Pink, apa kabar?”sapa ketiga temannya itu.”Kabar baik.”sahut Pink. Seperti biasa, Pink selalu berwajah muram, dia tidak pernah tersenyum sejak masuk SMP ini. Sebenarnya ketiga temannya itu sangat heran mengapa Pink tidak pernah tersenyum. Tapi mereka tidak pernah bertanya apa sebabnya.
Di suatu hari, ketika Pink pulang sekolah, Jingga memberanikan diri bertanya kepada Pink,”Pink, kenapa sih kamu nggak pernah senyum and kenapa kamu selalu muram?”tanya Jingga dengan wajah serius. Tapi apa yang dilakukan Pink? Dia justru menatap mata Jingga dalam-dalam sampai akhirnya dia melontarkan sebuah kalimat,”Ngga, kamu tahu nggak arti sebuah persahabatan?”tanya Pink. Jingga tidak menjawabnya,”Dulu aku punya teman, punya sahabat. Mereka semuanya baik, suka duka, tertawa menangis kami alami bersama, tapi apa yang terjadi semua hilang tinggal cerita!”kata Pink mengawali cerita. “Dulu kami selalu bersama, selama enam tahun selalu bersama. Tapi apa? Kini semua hilang hanya dengan kami harus mencari jalan kehidupan masing-masing, kini semuanya berakhir!”kata Pink menahan tangis, sambil memberikan album merah yang selalu dibawanya. Jingga lalu membuka album itu, ia melihat sekelompok kawan yang sepertinya sangat bergembira, dan di akhir album Jingga membaca puisi yang dibuat Pink. Inilah puisinya
Pohon-pohon indah
Bagai tersenyum pada dunia
Daun-daun luruh
Mengetuk tingkap malamku
Selalu ku coba lupakan
Kau tinggalkan aku sendiri
Bagai pena…
Yang semakin digesek
Semakin jelas
Entah mengapa kau hadir di
sampingku
Memberi kebahagiaan kepadaku
Wahai sahabatku….
Kini kau lain….
Selalu teringat jelas di ingatan
Menangis bersama udara yang mengalir
Sadarlah wahai sahabat
KU KAN SLALU MENGINGATMU
Jingga tahu Pink hanya tidak bisa beradaptasi sekarang ini, namun apa yang dilakukan Jingga, dia justru memarahi Pink,”Jadi ini yang membuat kamu tidak pernah tersenyum, You is very-very stupid you know? Ngapain nangis cuma gara-gara kayak gini. Nyadar dong aku juga manusia bukan? Kamu anggap aku apa? Aku juga bisa kamu jadiin sahabat, setidaknya teman. Kamu memang tidak bisa mensyukuri nikmat Tuhan!”teriak Jingga. Pink hanya menangis mendengar kata-kata Jingga. Jingga pun pergi bersama hempasan angin. “Jingga benar, aku nggak boleh sedih! Aku harus bangkit!”kata Pink.
Keesokan harinya, Pink menemui Jingga.”Ngga, aku mau ngomong.”kata Pink. “O.K. No problem.”sahut Jingga. “Kamu benar, aku ngak boleh sedih, aku dah mutusin.”kata Pink. “What?”sahut Jingga. “Ya, aku dah mutusin aku nggak akan sedih lagi, mulai sekarang KENANGAN AKU hanya di ALBUM MERAH!”perjelas Pink. “Nah gitu donk!”teriak Jingga. Mereka berdua lalu masuk ke kelas dengan penuh canda dan tawa.
Filed under: Tak terkategori