• Halaman

  • Arsip

  • KATEGORI

  • Komentar Terakhir

    Mr WordPress on Hello world!
  • Klik tertinggi

    • Tidak ada
  • Tulisan Teratas

    • Tidak ada

Kado Terindah

Oleh : Alvionita Dheny VII C

Kuk…kuk…kuk suara burung hantu terdengar semakin seram, langit semakin kelam, ditemani malam yang semakin mencekam. Wajah seorang gadis kecil berumur 9 tahunan terlihat semakin muram, sepertinya sangat ketakutan. “Ya ampun, gimana nih?! Aku belum bisa tidur juga. Tuhan, beri aku keberanian, please!!”bisik gadis kecil itu yang biasa dipanggil Phire namanya Saphire Nadya Andriyanta. Malam ini dia berlatih tidur sendiri. Namun….

“Kak…Kak Sya, bangun kak, Phire takut nih!” Phire memang penakut ia ke kamar kakaknya Mutiara Meysya Andriyanta nama akrabnya Sya.”Ih, berisik tahu ga sih! Kalo kamu takut ke kamar kak Rhe aja kenapa sih? Buruan gih!”sahut Sya yang orangnya emang agak judes. Dengan agak jengkel, Phire ke kamar kakak pertama dan satu-satunya kakak cowok di tiga bersaudara itu. Namanya Thopas Rheyza Andriyanta. “Kak, kak Rhe! Phire taku kak!”bisik Phire. “Oh, ya sini tidur dekat kakak.”Rhe lembut. Phire tidur dengan nyenyak.

***

“Bun, kak Sya tadi malem jahat!”gerutu Phire yang sudah siap duduk di meja makan. “Memangnya kenapa, sayang?”tanya Bunda yang lagi nyiapin sarapan dibantu Bi Ranti. “Ye…Phire aja yang penakut!”bantah Sya. “Dah ya Bun. Rhe berangkat dulu buru-buru nih!”Rhe terburu berangkat ke kampus. Ia berlari dari kamarnya dan mencium tangan Bunda dan berlalu. “Tapi Rhe belum sarapan!”teriak Bunda tapi suara motor Rhe yang menderu terdengan sudah jauh melaju.

***

“Bun, Bunda kenapa?”tanya Sya. “Oh,e…kamu sudah pulang ya…cepetan gih makan dulu.”Bunda mengalihkan pembicaraan tapi matanya terlihat merah. “Sudahlah Bun, cerita aja sama Sya, please Bun daripada Bunda nangis kaya gini, terus terang Sya sudah pergokin Bunda nangis berkali-kali, akhir-akhir ini, tapi Sya harap Bunda mau jujur.”rayu Sya. Ketika itu Phire pulang sekolah dia menghentikan langkahnya dan mendengarkan pembicaraan Bunda dan kak Sya. “Baiklah, Bunda akan cerita.”lanjut Bunda. Phire bersembunyi di balik dinding ruang tamu. “Selama ini adik kamu Phire bukan adik kandungmu, dia anak yang ibunda ambil dari orangtua yang tidak mampu membiayainya.”kata Bunda dengan suara yang masih terselip isakan tangis. “Bunda bingung! Pada umur 10 tahun pada saat hari ulang tahunnya dia harus dikembalikan dan Bunda sudah menjanjikannya, dan bayi yang ibu lahirkan dulu telah mati.”terang Bunda. “Tapi, Phire masih kecil, dia pasti shock mendengar dan mengetahui ini semua.”tangis Bunda meledak. Phire datang dan berkata,”Sudahlah Bunda jangan menangis, besok pada ulang tahun Phire, Phire akan kembali. Mungkin Phire akan bahagia.”kata Phire dengan air mata yang berjatuhan yang tak mampu ditahannya.

***

Tepat di hari ulang tahunnya, Phire dikembalikan ke orang tuanya yang ternyata sekarang kaya raya. Ia kini mempunyai adik kecil yang sangat cantik namanya Adilla Mellanie, disapa Dhille. Dengan berat hati keluarga Andriyanta menyerahkan Phire ke orang tuanya.”Makasih ya, Bunda. Ini kado terindah yang pernah Phire punya, aku ga akan lupa sama Bunda, Ayah, kak Sya, kak Rhe dan Bi Ranti aku sayang kalian. Makasih ya semua.”kata Phire dengan tangis bahagia.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.