Oleh : Astri C Desiana (VII C tahun 2006)
Ah, mungkin aku adalah orang yang kurang beruntung. Aku terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Namaku Muhammad Putra Razzak. Kata orang tuaku arti dari nama yang kumiliki adalah anak yang terpuji dan memberikan rezeki. Aku juga berharap aku bisa sesuai dengan namaku. Di keluarga, aku biasa dipanggil Putra.
Aku ingin bersekolah setinggi mungkin. Tapi cita-citaku kini telah terpupus. Aku hanya bersekolah sampai tamat SD. Itupun, aku sudah bersyukur. Sebab, kakakku hanya sampai kelas 4 SD, dikarenakan ketidakmampuan ekonomi di keluarga. Ayahku bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan ibuku sebagai buruh cuci. Kini, kegiatanku sehari-hari adalah sebagai peloper koran. Setiap hari aku harus bangun pagi, kemudian berangkat mengambil koran di tempatku bekerja. Lalu aku mengantar koran ke para pelanggan.
Setiap aku pulang dari mengantar koran, aku kadang merasa iri melihat temanku SD dulu sedang berangkat sekolah dengan menggunakan seragam SMP yang begitu bagus. Tapi, kelamaan aku bisa menerima kehidupanku ini. Setelah aku menjadi loper koran kira-kira ½ tahun, aku merasa sambil menyelam minum air. Karena aku bisa sekalian belajar matematika. Bagaimana caranya? Padahal kan tidak punya buku pelajaran atau ada guru pembimbing?
Nah, itulah kelebihan dari seorang peloper koran Putra. Aku mendapat uang gaji setiap bulan sekitar 150.000, itu gaji pokokku. Sekarang aku punya pekerjaan tambahan, yaitu menjual koran keliling, jadi tidak hanya mengantar koran ke para pelanggan. Setelah selesai mengantar koran ke pelanggan, baru aku berjualan koran tambahanku ini, aku hanya disuruh menjualkan koran keliling sebanyak 15 koran. Setiap terjual 5 koran, aku akan mendapat sekitar 20% dari hasil penjualan. 1 koran berharga Rp 3.500,00. Jika laku 5 koran berarti uang penjualanku mendapat Rp 17.500,00. Berapa uang ya aku mendapat komisinya.
Dengan begitu, aku jadi bisa sekalian belajar Matematika. Meski ya, hanya sederhana saja. Daripada tidak?! Ilmu tidak akan berguna jika tidak digunakan, benar kan? Nah, jika aku berhasil menjual 5 koran jadi aku memperoleh uang Rp 17.500,00 untuk kusetorkan. Komisiku berapa? Sebelum aku mendapat uang dari bosku, aku coba menghitung berapa bagian uang yang akan kudapatkan. Dengan cara matematika gimana ya caranya? Aha, aku ingat pelajaran SD di kelas 5! Caranya begini 20/100 dikalikan dengan 17500. Berapa hayo? Aku tahu, dengan aku bisa menjual 5 koran, aku bisa mendapat komisi 3.500. Wah, bagiku uang yang cukup lumayan lho! Dengan aku tahu berapa uang yang bisa aku dapat jika aku berhasil menjual koran-koran itu, aku menjadi bersemangat untuk berjualan. Sepertinya, keberuntungan ada padaku. 15 koran terjual habis, hati ini serasa senang. Berapa uang ya, yang kudapat hari ini? 5 koran terjual 17.500, berarti kalau 15 koran? Ya, tinggal 17500 dikalikan 3. Pasti teman-teman tahu kan darimana kok bisa dikalikan 3. Hasilnya dalah 52.500. Wow, hasil kerja yang memuaskan.
Karena koran telah habis, lalu aku pulang ke kantor miniku. Lalu kusodorkan uang hasil keringatku menjual koranku hari ini. Bosku Pak Ardi merasa puas. Ech, tapi aku sudah tahu lho, berapa uang yang akan kuperoleh dari hasil menjual 15 koranku tadi. Yup, pasti uang yang akan kuterima dalah 10.500. Uang ini bisa dikatakan sebagai honor tambahan. Sebelum Pak Ardi memberikan komisi padaku, Pak Ardi sengaja mengetes kemampuanku berhitung cepat. Lalu, aku pun menjawab, tetapi Pak Ardi tidak puas, karena aku hanya memberika jawaban saja tidak dengan cara. Lalu kujelaskan bagaimana caranya. Pak Ardi merasa senang dan bangga kepadaku. Ech, benar lho uang tambahan yang kudapat hari ini 10.500.
Aku kemarin berhasil menjual koran sampai habis. Pak Ardi pun menambah koran yang harus kujual keliling. Kali ini sudah mencapai 20 koran! Hari ini sedang sepi, jadi yang laku hanya 20 koran. Jadi, uang tambahanku hari ini sekitar 14.000. Meski pendapatanku menjadi bertambah, tapi aku juga harus berangkat pagi dan tentunya pulang lebih siang.
Entah mimpi apa aku tadi malam, tiba-tiba saja di suatu sore Pak Ardi dan istri ke rumahku dan ingin bertemu dengan orang tuaku. Pak Ardi mengutarakan maksud kedatangannya pada orang tuaku, aku kira aku akan dipecat, karena 3 hari kemarin aku tidak bekerja sebab aku sakit. Ternyata dugaanku meleset jauh. Pak Ardi ingin menjadikanku sebagai anak asuhnya. Aku akan disekolahkan ke SMP dimana aku mau. Tanpa berpikir panjang, orang tuaku dan tentunya aku langsung menerima tawaran itu. Pak Ardi ingin menjadikanku sebagai anak asuhnya, karena beliau belum punya momongan dan menurut beliau aku adalah anak cerdas, sehingga sayang jika aku tak bersekolah.
Pak Ardi juga melarangku untuk berjualan koran lagi. Tapi, untuk permohonan beliau yang satu ini aku menolaknya. Ya, karena kemauanku, maka beliau menyetujuinya, tapi aku dilarang untuk berjualan koran keliling. Nanti sekolahku terlambat lagi!
Filed under: Tak terkategori