Oleh : Devi Indriyani (2006)
Sekarang aku berdiri tepat di bawah langit biru yang sama seperti beberapa bulan lalu. Masih tetap indah, tetap cerah, dan masih saja membawakan suasana nyaman di sini. Dan entah apa yang ingin ku lakukan saat ini, bersandar di bawah naungan pohon yang sejuk, membuatku hanyut dalam kenanganku dengan tak ada satu katapun terlontar dari mulutku. Mungkin benar apa yang dikatakan orang padaku, aku masih tak rela melepaskan sosok itu dari hidupku. Sosok nan familier itu, kakakku tersayang.
Biarpun aku berharap dia pergi ke tempat yang amat jauh dengan cara yang amat mengerikan. Dia memang keras, setiap bicarapun dia selalu meninggikan nada bicaranya, tapi aku tahu dia tak segalak itu, di dalam dirinya terdapat kehangatan yang luar biasa, hatinya lembut bagaikan salju, meskipun samua memang jarang tersentuh. Entahlah harus bagaimana aku menggambar-kan sosok Kak Arifku itu. Kak Arif yang selalu memetik gitar di tempat ini, dan Kak Arif yang tak bosan-bosannya memarahiku.
Filed under: Tak terkategori | Tinggalkan sebuah Komentar »